Halaman

Jumat, 24 Juni 2016

BELLA

Bella POV

Sudah setengah bulan sekarang sejak aku mulai treatment di rumah sakit. Aku sempat berpikir itu akan membuatku semakin lemah tapi, nyatanya aku tetap masih berenerjik. Aku tidak kehilangan kebahagiaanku dan kecerahan diwajahku. Setidaknya sampai hari ini.

Dokter memeberikan kabar kepadaku ketika aku datang untuk periksa darah hari ini. Bisa ku bilang dia terlihat akan menyerah kepadaku, dan aku tau dugaan ku tidak salah.

“Bella.. hasil periksa darahmu hari ini tidak ada perubahan. Dari semua treatment yang sudah dijalankan sekarang seharusnya menunjukkan perubahan baik secara drastis. Tapi sejauh ini tidak ada perubahan hasilnya tetap sama.” Dr. Felix bilang kepadaku sambil menatapku.

“Lalu, apa yang akan dokter lakukan sekarang?”Aku Tanya dengan nada yang pelan. Aku tau apa yang akan dokter katakan padaku, tapi aku ingin dia mendengar darinya langsung.”

Dengan wajahnya yang terlihat sedih dia bilang “Ini adalah pilihanmu Bella. Saya akan memberikan kamu dua pilihan.”

Oh… dua pilihan.. entah kenapa aku merasa cemas.

“Pilihan pertama adalah kita tetap menjalankan treatment … tapi kita menaikan dosisnya. Itu yang akan menjadi kemungkinan untuk menghancurkan sel kanker.” Dia bilang. Aku menganggukan kepalaku. Aku setuju dengan pilihan pertama, tapi sesuatu dihatiku bilang kepadaku untuk menolak pilihan pertama.”

“Pilihan kedua adalah... Bella, sulit untuk mengatakan ini tapi kamu bisa pilih untuk tidak melanjutkan treatment dan membiarkan kanker menyerang secara perlahan hingga waktunya tiba.” Aku bisa lihat kesedihan dimatanya saat dia mengatakan itu kepadaku,

“Dokter, Apakah pilihan pertama akan ada resikonya?” Aku tanya.

Dia menatapku dan mengganggukan kepalanya “Iya Bella. Pasti ada resikonya. Dosis yang tinggi yang akan saya berikan kepadamu akan merubah kamu. Artinya kamu akan benar-benar lemah dan kamu akan berada di rumah sakit sampai kita tahu sel kanker itu benar-benar hilang.”

Aku menganggukan kepala dan akhirnya hening sejenak. Apa yang harus aku lakukan? Aku tahu aku harus pilih pilihan pertama. Tapi, sekali lagi aku merasa didalam hatiku mengatakan untuk menolak pilihan pertama. Aku merasa pikiran dan hatiku berkata berlainan.  Saat pikiranku berkata iya, namun hatiku berkata tidak. Hati memegang kekuatan kontrol yang sangat kuat dari pada pikiran. Apapun yang terjadi, akan selalu lebih baik untuk mengikuti kata hati.

Aku merasa aku telah menemukan pilihanku. Dan aku tidak merasa sedih dengan pilihanku bahwa aku memilih pilihan kedua.

Apakah itu harus menjadi perhatianku? Tidak. Kupikir tidak juga. Aku tahu dari awal bahwa bagaimanapun aku akan mati diakhirnya. Setiap orang dimasa laluku bilang kepadakupun aku akan mati. Mengingat itu membuat hatiku sakit seperti ditusuk. Huftt… Aku kembali menatap dokterku yang menunggu jawaban pilihanku.

Tersenyum kepadanya. Aku berdiri membuatnya loncat terkejut “Bel, apa kamu sudah membuat keputusannya ?” Dia bilang sambil dia juga berdiri menatapku.

Aku senyum kepadanya dan menganggukan kepalaku “Oke dok, aku telah memutuskan pilihanku. Aku pilih pilihan kedua.” Ku bisa bilang Dokter fellix ingin mengatakan sesuatu tapi aku memutuskan bicara lebih dulu.

“Aku tinggal dikehidupanku yang mengerikan dok, semua orang dimasa laluku hanya membully dan menyakitiku. Rasa cemas, takut, khawatir dan kesakitan yang aku rasakan.  Dokter pun sudah tau bekas luka yang aku memiliki disemua tubuhku.”

“Kehidupanku yang aku jalani dimasa lalu adalah bukan sesuatu yang anak perempuan seharusnya lewati. Aku bukan hanya dianiaya fisik tapi mental pun juga.”

“Keluargaku, temanku, dan tunanganku semua membenciku kecuali orang tua angkat ku. Mereka menyalah gunakan kebaikanku dan mereka justru meludahi wajahkun dan memberikan bekas luka untuk mengingat mereka. Aku senang aku bisa pergi dari tempat yang mengerikan itu. Aku tahu dari yang kulihat dimatamu dokter. Dokter berpikir bahwa aku memilih pilihanku karena masa laluku.”
“Tidak, aku tidak memilih pilihanku bukan karena itu. Aku pergi dari kehidupanku yang mengerikan itu saat aku masih kecil. Tapi setelah aku pergi dari tempat itu aku mengelilingi dunia. Banyak hal – hal indah yang aku lihat. Mendapatkan kebahagiaan dari orang – orang baru disekitarku. Aku hidup dikehidupan yang luar biasa. Aku sangat bersyukur untuk itu semua. Aku tahu Tuhan memberiku rencana yang lain saat Tuhan memberikanku kanker. Tuhan memberikan aku kesempatan untuk bebas dan untuk tidak harus menghawatirkan sesuatu, dan aku tidak akan menyia – nyikan kesempatan itu.”

Setelah aku katakan yang harus kukatakan. Meskipun aku merasa Dr. Fellix ingin merubah pikiranku tapi aku bersyukur dan senang  Dr. Fellix mengerti apa yang aku katakan. Dan sekarang aku harus mengigat jadwal pertemuanku dengan Dr. Fellix bulan depan. Aku harus datang dan mengetahui sampai berapa lama sampai waktuku tiba.

Aku tersenyum saat aku lewati anak – anak yang sedang main di ruang bermain dirumah sakit. Orang tua mereka tersenyum dan tertawa dengan hal – hal yang anak – anak mereka lakukan. Aku tahu anak – anak itu memiliki masalah sepertiku. Ya.. Mereka penderita kanker. Orang tua mereka tersenyum diwajahnya, tapi aku tahu dibalik itu mereka sedih dan menangis didalam hatinya mengetahui anak – anak mereka akan diambil kembali oleh Tuhan kapan saja hingga waktunya tiba. Aku berharap dan berdoa kepada Tuhan itu hal itu tidak akan terjadi kepada anak - anak mereka. Aku tidak ingin mereka kehilangan anak – anaknya sebelum anak mereka merasakan menikah dan memilki anak – anak atau cucu untuk mereka.

Berpikir tentang itu jadi ingat diriku sendiri. Bahwa aku belum memiliki kesempatan itu.

Akhirnya aku sampai dirumah. Aku kunci pintu dan aku berlari kekamarku dan memutuskan untuk mandi air hangat sebelum aku melakukan hal lainnya. Setelah aku mandi, aku menghapus air yang ada diwajaku dengan tanganku. Dan aku membiarkan kedua tanganku berada dileherku, sambil menutup mata. Tanpa sadar air mataku jatuh membasahi wajahku. Aku tahu kenapa aku menangis. Bukan karena tentang sakit kankerku tapi aku mengingat masa laluku. Aku merasa sedih bahwa aku adalah anak perempuan yang polos hanya ingin merasa disayangi, dicintai dan membutuhkan penjagaan dari keluarga. Ketika aku tidak mendapatkan itu, aku menaruh harapanku dimasa depan ketika aku memiliki laki – laki nanti yang mendapingi aku. Berharap jika aku bertemu dengannya dia bisa menjagaku, mencintaiku seperti yang aku harapkan tapi kenyataan berkata lain. Harapanku sirna, yang aku dapatkan adalah kekecewaan, kebencian darinya. Tapi disamping itu semua aku memiliki kebahagiaan lain dari orang – orang baru disekitarku. Akhirnya aku memiliki harapan baru, semangat baru untuk menjalani hidupku yang kelam.



FLASHBACK

Aku hanya perempuan biasa yang hidup di panti asuhan dan diangkat oleh seseorang yang baik dan penyayang bernama Christian yang aku sebut Ayah. Saat itu Christian mengangkatku sebagai anaknya bersama istrina Jenny saat aku masih berusia 10 tahun. Sebelumnya aku tidak tahu kenapa aku tinggal dipanti asuhan yang kutahu saat aku balita aku ditemukan didepan pintu asuhan dengan sepucuk surat “tolong jaga bayi ini dengan baik” ibu panti tidak tahu siapa orang tua ku. Aku sedih karena mengetahui orang tua ku menelantarkan aku, tapi sepanjang waktu aku berjalan aku terima kenyataan pahit itu, dan aku berharap suatu saat nanti aku bisa memiliki ayah dan ibu seperti anak – anak lainnya. Dan harapanku menjadi kenyataan bahwa sekarang aku memiliki Ayah dan Ibu yang memperlakukan aku dengan baik, menyayangi aku. Bahkan ayahku selalu mengantarkan aku sekolah dan ibuku yang menjemput aku pulang sekolah setiap harinya. Aku sangat senang sekali dengan masakan ibuku, apapun yang ibu masak akan selalu menjadi masakan kesukaan ku.  Aku sangat senang dan bersukur memiliki orang tua seperti mereka. Sampai akhirnya di saat ulang tahunku yang ke 19 tahun, saat itu ayahku bertanya kepadaku dimana aku ingin merayakan ulang tahunku, dan aku bilang aku ingin di restauran pertama kali ayah dan ibu mengajakku saat ayah dan ibu menjemputku dari panti asuhan. Mereka pun tersenyum dan menyutujui keinginanku.
Aku benar – benar merasa bahagia dan merasa menjadi orang yang paling beruntung sedunia memiliki mereka menjadi orang tuaku. Saat diperjalanan menuju restaurant bersama ayah dan ibuku dimobil, kita bernyanyi lagu – lagu kesukaan kita dan apakah aku sudah bilang bahwa ayahku suaranya buruk sekali? Oh haha.. iya ayah aku tidak bisa bernyanyi.. tapi aku biarkan saja karena itu terdengar lucu membuat aku dan ibuku tertawa geli sekali… dan tiba – tiba….

Mobil dari berlawanan arah melajur jalan kearah mobil ayahku hingga mobil ayahku terlempar dan terguling sejauh 5 meter. Saat aku berusaha membuka mataku, aku melihat ayah dan ibuku tidak sadar dan berlumuran darah. Aku merasa tidak bisa melakukan apa – apa dan pandanganku mulai memudar..memudar dan akhirnya aku tidak sadarkan diri.

--- 2 hari kemudian ---

Aku tidak tahu mengapa mataku sulit sekali terbuka, badanku tidak bisa bergerak. Hingga panik dan aku sulit bernafas. Aku coba sekali lagi dengan tarik nafas dan buang nafas secara perlahan hingga ku tenang dan aku coba lagi membuka mata dan akhirnya mataku pun terbuka. Aku melihat sekitar ruangan ang serba putih dengan wajah yang bingung dan aku mendengar suara disampingku. Sampai akhirnya sadar bahwa aku dirumah sakit dan suara yang ku dengar adalah suara mesin yang memperlihatkan degup jantungku. Aku pun teringat… aku berulang tahun… restauran…. Ayah.. ibu…. Mobil…
Oh Tuhan….. sambil menangis aku teringat kejadian itu. Dengan panik saat aku berpikir tentang ayah dan ibu. Aku menekan tombol disamping kasurku agar dokter atau perawat mendatangi kamarku.

Oh tuhannnnnn.. semoga ayah dan ibu baik – baik saja… aku berdoa dalam hati.

Aku mendengar pintu kamarku terbuka dan kulihat dokter dan seorang perawat masuk ke ruanganku. Dengan rasa cemas dan khawatir aku langsung menyakan kedua orang tuaku.

“Dokter, suster dimana ayah? Dimana ibu? Mereka baik – baik saja? Iyakan dok? Sus?” .

Dengan raut wajah yang sedih dokter berkata “Maaf, ayah dan ibumu… tidak bisa diselamatkan”.

Mendengar itu membuatku merasa harapan ku, kebahagiaanku hilang seketika. Tangisku tidak ada henti – hentinya. Ayah.. ibu.. kenapa kalian meninggalkan aku?.

Tiba – tiba om dan tanteku datang mengunjungi aku. Entah kenapa mereka terlihat marah dan pada akhirnya mereka bilang kepada ku “INI SALAHMU BELLA!” “KALAU SAJA KAMU TIDAK MEMINTA MEREKA PERGI MEREKA MASIH ADA DISINI!!!” “DASAR ANAK PEMBAWA SIAL” “PANTAS SAJA ORANG TUA KANDUNGMU MENELANTARKAN KAMU!” Setelah mereka mencaci dan memaki akhirna mereka pun pulang dan meninggalkan aku sendiri dirumah sakit. Tuhan… kenapa hal ini terjadi kepada ku? Apakah aku tidak layak untuk bahagia?.

Sejak saat itu aku tinggal dengan om, tante serta keluarga dari orang tua ku memperlakukan aku dengan jahat dan kejam. Apapun yang aku lakukan untuk mereka aku tetap selalu salah dan mendapatkan pukulan dari mereka. Kesedihan, kesakitan yang aku rasakan. Bahkan tunangan ku menghianatiku dengan berhubungan dengan sepupuku. Saat aku tahu kebenaran itu, dia pun tidak mengelaknya, bahkan dia dan sepupu ku terang – terangan menunjukkan kemesraan mereka didepanku. Aku tidak menyangka laki – laki yang ku kenal baik, penyayang kepadaku bisa melakukan itu. Saat itulah aku sadar bahwa tidak ada yang peduli kepada ku dan akiu memutuskan untuk pergi menjauh dari mereka. Dengan cepat aku mengemasi barang – barang ku dan sejumlah uang yang orang tua ku tinggalkan untukku, cukup banyak untuk hidupku. Ayah dan ibu adalah orang yang kaya. Ayahku adalah pemilik saham di perusahaannya, dan ibuku memiliki beberapa hotel dan restoran bintang lima di kotaku. Mereka selalu memanjakkan aku. Setelah aku mengemasi barang – barangku, aku mempersiapkn diri untuk kabur dari rumah ini, aku tunggu malam tiba, saat mereka tertidur lelap saat itu aku akan pergi.

--- 4 tahun kemudian ---

Aku bersyukur, aku bisa hidup dengan normal saat ini, saat ini aku tinggal di apatemen yang kusewa sejak aku pergi dari rumah. Selang waktu berlalu aku telah menyelasaikan kuliahku dan saat ini aku bekeja sebagai general manajer disalah satu majalah terkenal di kota ini. Aku beruntung memiliki teman, sahabat dan pacar yang peduli dan sayang kepadaku. Bahagia sekali mengenal orang – orang baru disekitarku Mereka sangat ramah dan baik kepadaku.

Saat ini aku sedang menunggu Lucas di kafe terdekat dari apartemen ku. Oh ya.. Lucas William adalah pacarku, sudah 2 tahun lebih aku bersama dia. Aku beruntung memiliki dia. Saat aku sedang memikirkan dia, tiba – tiba lucas pun muncul. Hehe

Waktu tidak terasa apabila aku sedang bersama nya. Tanpa sadar kita hamper 3 jam ada dikafe ini. Saat aku melihat jam ternyata sudah larut malam. Lucas pun mengantarkan aku pulang ke apartemen ku. Setibanya didepan pintu apartemen ku lucas mencium keningku dan mengucapkan selamat malam kepada ku. Lucas pun pulang, akupun masuk kedalam kamarku sambil tersenyum. Aku mengingat saat awal aku bertemu dengannya, mengenalnya. Dia adalah harapan baru untuk ku. Kebahagian yang diberikan untukku. Disetiap harinya kita selalu menghabiskan waktu sama – sama. Semakin hari aku semakin jatuh cinta dengannya. Aku melihat masa depanku akan bersama dia. Tuhan… suatu saat nanti kabulkan permonanku.


--- 2 Tahun kemudian ---
Saat ini aku sedang bekerja di kantorku, enth mengapa akhir – akhir ini kondisi ku kurang membaik. Aku merasa sakit dan nyeri kepala. Lucas selalu mengajakku kedokter tapi aku selalu menolak karena ku pikir ini adalah sakit kepala biasa mungkin karena aku bekerja terlalu keras. Karena aku merasa kurang baik aku memutuskan untuk pulang kerumah.

Sesampainya aku dirumah aku merasa kondisiku semakin buruk dan akhirnya aku memutuskan untuk menelepon lucas.

Ring…. Ring… Ring…
Akhirnya lucas mengangkat teleponnya “Hallo princess”.
“Lu.. Lucas kondisiku kurang membaik, bisakah kamu mengantarkan aku kedokter?” ku tanya.
Dengan buru – buru lucas menjawab ”Iya. Iyaaa tunggu baby, aku jemput kamu sekarang”


KEMBALI KEMASA SEKARANG

Sejak saat itu aku mengetahui bahwa aku memiliki kanker dan aku hanya memiliki kemungkinan kecil untuk bisa selamat dari kanker. Lucas selalu menemaniku,  menghiburku, dan memanjakkan aku. Saat aku memberitahukan Lucas pilihan yang dokter berikan kepadaku dia sangat cemas dan sangat sangat sedih. Aku tahu lucas mengharapkan aku untuk memilih pilihan pertama seperti yang dokter felix inginkan. Tapi aku jelaskan bahwa kondisiku semakin hari semakin melemah.

Hari ini aku bersama Lucas menunggu Dr. Felix hari ini juga dokter akan mengatakan pada ku berapa lama lagi kira – kira aku bertahan hidup. Lima menit kemudian dokter datang “Hallo selamat siang Bella, Lucas” aku hanya menganggukan kepala dan lucas menjawab “siang dok”.

“Bella, bagaimana kabarmu hari ini ?” dokter bertanya.
“Aku merasa semakin memburuk, kira – kira berapa lama lagi dok saya akan bertahan?..” Jawabku.
Dengan wajah yang sedih dokter bilang kepadaku “Bella, melihat kondisi mu dan berbagai treatment serta obat yang telah kamu jalani namun tidak ada respon positif dari tubuhmu hari ini saya perwakilan dari dokter – dokter yang telah menangani kamu, saya akan mengatakan bahwa untuk perkiraan kami kamu akan bertahan mungkin selama 4 – 5 bulan. “
Aku terdiam mendengarkan itu, Lucas menatapku dan air mata nya menetes dengan raut wajah yang sedih. “Oh my Bella” Lucas berkata sambil memelukku dengan erat seperti dia benar – benar takut kehilanganku.
Aku kembali lagi menatap dokterku dengan tersenyum sedih aku berkata “Terima kasih dok atas semua yang dokter dan teman – teman dokter lakukan kepada ku. Aku bersyukur bisa mengenal kalian. Saat ini akun ingin menikmati sisa – sisa waktu ku. Sekali lagi terima kasih dok.”

Setelah dari rumah sakit Lucas mengajakku ke restoran favorit kita berdua, aku tahu lucas mencoba keras untuk tegar dan tidak menunjukkan kesedihanya. Setelah dari restoran Lucas mengantarkan aku pulang ke apartemen. Lucas memutuskan untuk bermalam di apartemenku. Lucas mengatakan takut terjadi sesuatu kepadaku. Pada malam tiba Lucas menyuruhku tidur, lucas mengantarkan aku kemar dan menyelimutiku, dan sebelum aku tertidur Lucas memberikan aku obat untuk aku minum, lalu Lucas mencium keningku dan mengucapkan sekamat tidur, lalu dia mematikan lampu kamar tidurku lalu keluar dari kamarku. Tidak lama aku tertidur.

--- 4 Bulan kemudian ---

Bella POV
Semua badanku terasa sakit, kepalaku sakit, aku merasa panas, tubuhku berkeringat, tenggerokanku sangat sakit. Sudah beberapa minggu ini aku berada di rumah sakit Aku membuka mulutku ingin memanggil Lucas tapi aku tidak bisa. Aku mencoba lagi untuk memanggil Lucas yang sedang tertidur dikursi dan kepalanya dikasur sebelah tanganku dengan suara yang pelan sambil menggenggam tangannya “Lucas”.
Lucas pun terbangun dan langsung menggenggam tangaku dan berkata “ Hey Bella akhirnya kamu bangun.”. Aku tatap lucas berkata “Iya Luc.. Tapi aku masih merasa lelah dan mengantuk, aku tetap masih ingin tidur lagi.”
“Tunggu Bell, jangan tidur!! Dokter sebentar lagi akan datang untuk menegecek keadaan kamu.” Lucas berkata. Ku tahu kenapa Lucas berkata seperti itu, terlihat jelas dia terlihat takut. Takut apabila aku tertidur lagi, aku tidak akan terbangun lagi.

Dengan tersenyum dan pelan aku berkata “Okey Luc, tapi bisakah kamu bernyanyi untuk ku? Sudah lama aku tidak mendengarkan kamu bernyanyi.”








Lucas POV
Aku sangat sangat merasa sedih, takut. Takut aku akan kehilangan orang yang paling aku sayangi aku cintai. Aku tahu kondisi Bella semakin hari semakin memburuk aku tahu bella sudah tidak kuat lagi untuk menahan rasa sakitnya. Bersama bella aku benar – benar merasa bahagia. Aku sangat ingin memiliki masa depanku bersamanya. Tapi melihat kondisi bella seperti ini rasanya harapanku sirna perlahan. Saat ini Bella memintaku bernyanyi untukna. Seperti dulu aku selalu menyanyikan lagu untuknya.
Aku berbisik sebelum aku bernanyi “Oke Bella, aku akan bernanyi untukmu.”.

“When tomorrow comes
I’ll be on my own
Feeling frightened of
The things that I don’t know
When tomorrow comes
Tomorrow comes”

Pikiranku kembali teringat waktu aku dan Bella kita bercanda bersama saat kita berada ditaman saat kita piknik.

“And though the road is long
I look up to the sky
And in the dark I found lost hope that I wont fly
And I sing along and I sing along”

Aku teringat saat kita pertama kali camping bersama, aku memutuskan untuk menakut – nakuti bella. Dia menangis sangat kejar karena bella benci merasa takut.

“ I got all I need when I got you and I
I look around me, and see a asweet life
I’m stuck in the dark but you’re my flashlight
You’re getting me, getting me throught the night
Kick start my heart when you shine it in my eyes”

Teingat ketika aku mendapat kabar bahwa orang tua ku meninggal dunia dimana Bella menemaniku, menghapus air mataku dan membantu menyemangatiku.

Can’t lie it’s a sweet life
stuck in the dark but you’re my flashlight
You’re getting me, getting me throught the night
Cause you’re my flashlight, you’re my flashlight, you’re my flashlight”

Suaraku mulai menghilang bersamaan dengan air mataku jatuh diwajahku. Memori aku dan bella  teringat jelas di ingatanku seperti hari kemarin.

“Ooh I see the shadows long beneath the mountain top
I’m not afraid when the rain wont stop
Cause you light the way, You light the way”

Aku ingat saat ulang tahunku, kita sama – sama pergi berlibur selama 2 minggu bersama Bella tanpa memikirkan hal lainnya. Hari itu adalah hari yang special dan hari terbaik. Kita merasa bahagia dan beruntung memiliki satu sama lain.

“ I got all I need when I got you and I
I look around me, and see a asweet life
I’m stuck in the dark but you’re my flashlight
You’re getting me, getting me throught the night
Kick start my heart when you shine it in my eyes”
Can’t lie, it’s sweet life.”

Aku teringat saat pertama kali aku dan bella bertengkar, bella tidak ingin berbicara kepadaku, aku pun melakukan berbagai cara agar bella tidak marah lagi denganku. Aku memutuskan untuk mengajak Bella ke wahana taman bermain dan saat sesampainya ke tempat itu, kita bermain berbagai wahana hingga Bella tersenyum, tertawa kembali. Aku senang usahaku berhasil.Akhirnya hubungan kita kembali baik seperti biasa.

“Stuck in the dark but you’re my flashlight
You’re getting me, getting me throught the night
(Light, light lihght you’re my flashlight 2x Ooh…..”

Bella menggengam erat tanganku dan aku menggenggam erat tangannya seperti aku tidak ingin melepaskan tangannya  ketika aku bernyanyi untuknya. Aku tidak ingin kehilangannya. Aku benar – benar tidak ingin. Perlahan genggamannya terlepas. Aku menundukkan kepalaku dan bernyanyi.

“ I got all I need when I got you and I
I look around me, and see a asweet life
I’m stuck in the dark but you’re my flashlight
You’re getting me, getting me throught the night
Kick start my heart when you shine it in my eyes”
Can’t lie, it’s sweet life.”

Semakin lama aku bernyani semakin aku merasa tidak bisa mengucapkan liriknya dengan baik. Segalana terasa sulit. Aku tahu waktuku bersama Bella akan segera berakhir.

“Stuck in the dark but you’re my flashlight
You’re getting me, getting me throught the night
Cause you’re my flashlight, you’re my flashlight, you’re my flashlight”

Dan aku mendengar suara detak jantungnya mulai berhenti dan mesin detak jantungnya mulai terlihat garis lurus. Aku mendekatkan kepalaku ke dadanya, aku menangis histeris. “Bellaaaaaaaaaaaa” Aku mengulang – ulang lagi memanggilnya, aku kehilangan sosok yang kuanggap temanku, sahabatku, pacarku.



Bella POV

“Stuck in the dark but you’re my flashlight
You’re getting me, getting me throught the night
Cause you’re my flashlight, you’re my flashlight, you’re my flashlight”

Aku mendengarkan Lucas bernyanyi, aku akan sangat merindukannya. Rasa sakit, kehilangan, kekecewaan, harapan, kebahagian telah aku lalui, Memori saat aku masih di panti asuhan, ayah dan ibu angkatku, keluarga ayah ibuku, tunanganku, temanku, sahabatku, dan Lucas. Aku bersukur memliki kesempatan untuk hidup didunia. Aku berharap Lucas dapat melepasku pergi dan mendapatkan kebahagiaan baru untuk hidupnya.
Aku menutup mata dan aku siap Tuhan mengambil diriku dengan tersenyum diwajahku, Aku siap untuk pergi. Suara terakhir yang kudengar adalah suara lukas memanggilku.






SELESAI

1 komentar: