Laman

Jumat, 11 Januari 2013

MOTIVASI KEWIRAUSAHAAN


KONSEP DAN KARAKTERISTIK KEWIRAUSAHAAN

1.1.      DEFINISI WIRAUSAHA DAN KEWIRAUSAHAAN

Wirausaha adalah orang yang mengambil resiko dengan jalan membeli barang sekarang dan menjual kemudian dengan harga yang tidak pasti (Cantillon).

Wirausaha adalah orang yang memindahkan sumber-sumber ekonomi dari daerah dengan produktivitas rendah ke daerah dengan produktivitas dan hasil lebih tinggi (J.B Say).

Wirausaha adalah orang yang menciptakan cara baru dalam mengorga-nisasikan proses produksi (Schumpeter).

Tugas Wirausaha adalah melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda, bukan hanya sekadar dengan cara yang lebih baik.

1.2.      KARAKTERISTIK PRIBADI WIRAUSAHA

Sifat kepribadian wirausaha dipelajari guna mengetahui karakteristik perorangan yang membedakan seorang wirausaha dan bukan wirausaha.

David McCleland mengindikasikan ada korelasi positif antara tingkah laku orang yang memiliki motif prestasi tinggi dengan tingkah laku wirausaha.

Karakteristik orang-orang yang mempunyai motif prestasi tinggi adalah:

a.      Memilih resiko “moderate”. Dalam tindakannya dia memilih melaku-kan sesuatu yang ada tantangannya, namun dengan cukup kemung-kinan untuk berhasil.

b.      Mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatan-perbuatannya. Artinya kecil sekali kecenderungan untuk mencari “kambing hitam” atas kegagalan atau kesalahan yang dilakukannya.

c.       Mencari umpan balik (feed back) tentang perbuatan-perbuatannya.

d.     Berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara baru.

Upaya untuk mengungkapkan karakteristik utama wirausaha juga dila-kukan oleh para ahli dengan menggunakan teori letak kendali (locus of control) yang dikemukakan oleh J.B. Rotter. Teori letak kendali menggam-barkan bagaimana meletakkan sebab dari suatu kejadian dalam hidup-nya. Apakah sebab kejadian tersebut oleh faktor dalam dirinya dan dalam lingkup kendalinya atau faktor diluar kendalinya.

Dua kategori letak kendali menurut Rotter yaitu:

-    Internal

Orang yang beranggapan bahwa dirinya mempunyai kendali atas apa yang akan dicapainya. Karakteristik ini sejalan dengan karakteristik wirausaha seperti lebih cepat mau menerima pembaharuan (inovasi).

-    Eksternal

Orang yang beranggapan keberhasilan tidak semata tergantung pada usaha seseorang, melainkan juga oleh keberuntungan, nasib, atau keter-gantungan pada pihak lain, karena adanya kekuatan besar disekeliling seseorang.

Management Systems International menyebutkan karakteristik pribadi wirausaha (personal entrepreneurial characteristics) sebagai berikut:

Mencari peluang
Keuletan
Tanggungjawab terhadap pekerjaan
Tuntutan atas kualitas dan efisiensi
Pengambilan resiko
Menetapkan sasaran
Mencari informasi
Perencanaan yang sistematis dan pengawasannya
Persuasi dan jejaring/koneksi
Percaya diri
1.3.      PERAN WIRAUSAHA BAGI LINGKUNGANNYA

Dalam pandangan Schumpeter, seorang wirausaha adalah inovator. Hanya seseorang yang sedang melakukan inovasi yang dapat disebut sebagai wirausaha. Mereka yang tidak lagi melakukan inovasi, walaupun pernah, tidak dapat lagi dianggap sebagai wirausaha. Wirausaha bukan-lah jabatan, melainkan suatu peran.

Berdasarkan pengertian tentang wirausaha yang telah dibahas sebelum-nya dapat disimpulkan bahwa peran wirausaha yang utama bagi ling-kungannya adalah sebagai berikut:

Memperbaharui dengan “merusak secara kreatif”.
Dengan keberaniannya melihat dan mengubah apa yang sudah diang-gap mapan, rutin, dan memuaskan.

Inovator
Menghadirkan hal yang baru di masyarakat.

Mengambil dan memperhitungkan resiko
Mencari peluang dan memanfaatkannya
Menciptakan organisasi baru
1.4.      MITOS DALAM KEWIRAUSAHAAN

Berikut ini rincian mitos kewirausahaan yang dikumpulkan oleh Michael Robert dan Alan Weiss, dan sejumlah bukti yang dikumpulkan dari berbagai sumber yang menentang mitos tersebut.

a.      Wirausaha adalah pengambil resiko besar.

-    Wirausaha bukan pengambil resiko besar, melainkan seorang yang menghitung resiko yang akan diambilnya. Tantangan ada namun dengan upaya tertentu, tantangan itu akan dapat dicapai.

-    Wirausaha bijaksana dalam memilih resiko dan bukan penjudi.

b.     Wirausaha adalah pemilik usaha, bukan pegawai.

-    Yang mengubah restoran “fast food” McDonald’s menjadi raja dibidang “franchising” adalah Ray Kroc, pimpinan perusahaan, dan bukan pemiliknya yaitu McDonald bersaudara.

-    Intrepreneur di dalam perusahaan bukanlah pemilik.

c.       Inovasi hanya di perusahaan kecil.

-    Inovasi dilakukan dengan ketrampilan atau keahlian dan bukan pembawaan atau milik budaya tertentu. Ia dilakukan dimana-mana.

-    Musuh inovasi adalah birokrasi yang terdapat di perusahaan besar ataupun kecil.

d.     Inovasi adalah gagasan besar.

Sebagian keberhasilan besar dimulai dari gagasan baru yang sederhana, misalnya “walkman” muncul sebagai produk baru yang sukses berasal dari keinginan tetap mendengar musik secara pribadi selagi berolahraga.

e.      Wirausaha adalah pencetus gagasan saja.

Seorang inovator terjun langsung menerapkan gagasannya.

f.       Wirausaha menyediakan sarananya termasuk modal sendiri.

-    Wirausaha tidak sama dengan kapitalis.

-    Wirausaha menggunakan sarana yang ada dengan cara baru.

g.      Inovasi datang mencuat bagai kilat dari seorang genius.

-    Ray Kroc memperbaharui bisnis hamburger dengan mengadakan pengamatan terus-menerus atas restoran McDonald’s.

-    Fred Smith menghasilkan “undergraduate thesis” model distribusi barang kiriman kecil (parcel) dari pengamatan di kantor pos dan perusahaan pengiriman UPS. Thesisnya dinilai C— oleh dosennya, namun gagasannya setelah diterapkan menjadi perusahaan Federal Express yang sangat sukses.

h.     Wirausaha dilahirkan dan kewirausahaan tidak dapat dilatihkan.

Seperti ketrampilan dokter atau pengacara, ketrampilan kewirausa-haan dapat dilatihkan.

1.5.      WIRAUSAHA, MANAJER DAN ORGANISASI

Peran wirausaha pendiri adalah melahirkan suatu organisasi baru, baik sendiri maupun bersama suatu kelompok. Setelah lahir maka wirausaha pendiri melakukan upaya pengembangan organisasi hingga sampai organisasi tidak lagi tergantung pada pendiri. Pelaksanaan organisasi memerlukan manajemen yang menguatkan organisasi dengan sistem manajemen dan mengurangi ketidak-pastian dan ketergantungan pada faktor subjektivitas pendiri.

Dalam diagram berikut ini diperlihatkan bagaimana orientasi manaje-men, yang menciptakan birokrasi, yang berbeda dengan orientasi kewira-usahaan, yang menciptakan inovasi:

GAMBAR 1: MANAJEMEN vs KEWIRAUSAHAAN

MANAJEMEN                                                                                         KEWIRAUSAHAAN

Tertib, Teratur,  Stabil                             ↔                                Dinamis, Baru, Melawan tradisi

Adil                                                          ↔                                Unik, dikhususkan

Pasti                                                         ↔                               Beresiko, tidak sama Dengan yang lalu

↓                                                                                                                                     ↓

BIROKRASI                                                                                                             INOVASI



Pengembangan sistem dan budaya organisasi harus dapat menam-pung manajemen yang baik dan juga adanya kewirausahaan. Salah satu pola yang ada untuk menampung kewirausahaan di dalam organisasi mapan adalah wirausaha-intra (intrapreneurs). Pengembangan kewirausa-haan di dalam perusahaan dapat terjadi pada tiga tingkatan, yaitu:

Individual (intrapreneurs / product champions)
Kelompok kerja (entrepreneurial team / skunworks)
Oganisasi / Perusahaan (entrepreneurial organization)
Di Indonesia tidak jarang ditemui perusahaan yang berada dalam kotak “Tidak Layak Untuk Terus” yaitu baik manajemen dan kewirausahaan yang dimilikinya belum cukup menyiapkan manajemennya dan sudah “meninggalkan” perusahaan untuk membangun bisnis baru. Wirausaha pendiri dapat dianggap sempurna bila organisasi yang didirikannya da-pat mencapai kotak “ideal” yaitu baik manajemennya dan kewirausahaan organisasinya dalam taraf “baik”.

BAB II

Motivasi Berwirausaha & Proses Terbentuknya Wirausaha

2.1 MOTIVASI BERWIRAUSAHA

Kebutuhan atau Kesenjangan Kebutuhan→Pencarian Jalan Keluar untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan→Pilihan Perilaku untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan

↑                                                                                                                                                                                                                          ↓

Penentuan kebutuhan di masa yang akan datang dan pencarian bagi cara pemenuhannya  ← Evaluasi atas Pemuasan Kebutuhan

Maslow’s Hierarchy of Needs
Self-Actualization Maximization of potential

Respect, recognition  Esteem Needs

Social Needs Social interaction

Job security Safety Needs

Physiological

The basics: food, shelter, and clothing

Teori 3 Kebutuhan David McClelland
1. N’Ach,

Wirausaha yang memiliki motivasi ini selalu ingin berprestasi/ meraih yang terbaik, umumnya memiliki ciri-ciri :

Ingin mengatasi sendiri kesulitan-kesuliatan dan persoalan-persoalan yang timbul pada dirinya.
Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk dapat mengukur keberhasilan atau kegagalan
Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi
Berani menghadapi resiko dengan penuh tantangan
Menyukai tantangan dan melihat tantangan secara seimbang.
2.N’Pow,

yaitu hasrat untuk mempengaruhi, mengendalikan dan menguasai oranglain.

Ciri umumnya adalah :

Senang bersaing
Berorientasi pada status
Menguasai orang lain.
3. N’Aff,

yaitu hasrat untuk dapat diterima dan disukai oleh orang lain. Wirausaha yang berafiliasi tinggi lebih menyukai persahabatan, bekerjasama daripada persaingan dan saling pengertian.

2.2 Reinforcement Theory

Mengapa orang berhasrat untuk berwirausaha ?
(Steinhoff & Burgess (1993:6)

The desire for higher income
The desire for a more satisfying career
The desire to be self directed
The desire for the prestige that comes to being a business owner
The desire to run with a new idea or concept
The desire to build long term wealth
The desire to make a contribution to humanity or to a specific cause
Menurut Wirasasmita (1994), orang berhasrat untuk berwirausaha karena :

1. Alasan Keuangan, yaitu mencari nafkah, untuk menjadi kaya, untuk mencari pendapatan tambahan, sebagai jaminan stabilitas keuangan.

2. Alasan Sosial, yaitu memperoleh gengsi/status, untuk dapat dikenal dan dihormati, utnuk menjadi panutan, agar dapat bertemu dengan orang banyak.

3. Alasan Pelayanan, yaitu memberi pekerjaan kepada masyarakat, membantu anak yatim, membahagiakan orang tua, demi masa depan keluarga

4. Alasan pemenuhan diri, yaitu menjadi atasan/ mandiri, untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, untuk menghindari ketergantungan pada orang lain, untuk menjadi produktif dan untuk menggunakan kemampuan pribadi

2.3 Proses kewirausahaan Diawali oleh Inovasi (Carol Noore)

Inovasi dipengaruhi oleh ;

1. Faktor Internal  seperti locus of control, toleransi, nilai-nilai, pendidikan, pengalaman.

2. Faktor ekternal/lingkungan seperti model peran, aktivitas, peluang,organisasi, keluarga

Strategi Menciptakan Inovasi sbb:

Menciptakan manfaat
Meningkatkan nilai inovasi
Beradaptasi dengan lingkungan sosial ekonomi pelanggan
Menyajikan apa yang dianggap bernilai dari pelanggan
Konsep 3M (A.Gym)

* Mulai dari yang kecil

* Mulai dari diri sendiri

* Mulai saat ini juga

Konsep 5D (Robert T.Kiyosaki)

Dream
Data
Drive
Dedication
Do-It
+    Doa dan Tawakal
2.4  TEORI-TEORI PROSES TERBENTUKNYA WIRAUSAHA

1. TEORI LIFE PATH CHANGE

Shapero & Sokol (1982) : “tidak semua wirausaha lahir dan berkembang menjadi jalur yang sistematis dan terencana”.

Penyebab :

Negative displacement
Being between things
Having positive pull
2. TEORI GOAL DIRECTED BEHAVIOR

Wolman (1973) : Seseorang menjadi wirausaha karena termotivasi untuk mencapai tujuan tertentu

Keputusan menjadi wirausaha diambil dengan tujuan memecahkan masalah kekurangan yang dia miliki. Masalah kekurangan diidentifikasi dengan adanya HARAPAN sebagai pemecahan.

3.TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Sebelum mengambil keputusan untuk berwirausaha, seseorang memiliki berbagai macam pertimbangan-pertimbangan.

Pengambilan keputusan tidak mudah bahkan menimbulkan konflik, antara dirinya sendiri bahkan dengan orang lain

Moore (1954) : Pengambilan keputusan adalah perpaduan antara kegiatan berpikir, memilih dan bertindak.

Crimmon (1976) : pengambilan keputusan dapat mengarahkan perilaku tindakan seseorang dalam mencapai tujuannya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan :

Berasal dari situasi lingkungan keputusan itu sendiri

Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri si pengambil keputusan itu sendiri

4. TEORI OUTCOME EXPECTANCY

Bandura (1986) : keyakinan tentang konsekuensi yang diterima setelah seseorang melakukan suatu tindakan tertentu.

Jenis-jenis Insentif Outcome Expectancy : primer, sensoris, sosial, ekonomis, aktivitas, status, pengaruh, terpenuhinya standar internal.

Kenapa usaha kecil sering gagal?

Kesalahan dalam :

Pengelolaan uang
Pengelolaan usaha dan manajemen
Kompetensi
Kredit perbankan
Membidik pasar
Administrasi usaha dan hukum
2.5 7  rahasia menjadi enterprener

Berani mengambil resiko terbesar
Meminimumkan mimpi-mimpi besar
Hargai pelanggan lebih tinggi
Pelihara anak buah anda
Dalam kondisi susah, mampu bertahan
Percaya pada diri sendiri
Punya gairah dan semangat untuk maju
2.6 Esensi kewirausahaan

Menciptakan nilai tambah melalui proses pengkombinasian SDA+SDM+Teknologi

Harus berbeda dengan yang lain, agar mampu bersaing dengan cara :

1. Pengembangan teknologi baru

2. Perbaikan produk dan jasa yang ada

3. Penemuan produk baru dan cara-cara baru

BAB III

PENGEMBANGAN KREATIVITAS

3.1.      DEFINISI KREATIVITAS

Kreativitas merupakan kemampuan seseorang dalam membuat sesu-atu menjadi baru dalam keberadaannya.  Kreativitas juga berhubungan dengan adanya perubahan ide. Beberapa contoh orang yang memiliki kreativitas dalam bidangnya yaitu Pablo Picasso, maestro dalam seni lukis mengatakan bahwa dampak dari kreasi adalah dampak pertama dari suatu pengrusakan.

3.2.      ATRIBUT KRETIVITAS

Karakteristik orang yang kreatif terdiri dari beberapa atribut seperti:

a.      Terbuka  dengan pengalaman.

b.      Observasi – melihat sesuatu hal dengan sudut pandang lain.

c.       Memiliki rasa penasaran tinggi.

d.     Mau menerima dan mempertimbangkan pendapat berbeda.

e.      Indepen dalam mengambil keputusan, pikiran dan tindakan.

f.        Percaya diri.

g.      Mau mengambil resiko terhitung.

h.      Sensitif terhadap masalah.

i.        Fleksibel

j.        Responsif pada pemikiran.

k.      Motivasi tinggi.

l.        Kemampuan untuk konsentrasi.

m.   Selektif

n.      Bebas dari rasa takut dan gagal.

o.      Memiliki daya pikir imajinasi yang baik.

3.3.      PROSES KREATIVITAS

Berdasarkan fungsinya otak dibedakan atas fungsi otak kiri yang menangani berpikir logika, rasional, dan analitik. Sedangkan fungsi otak kanan mengatur tingkat emosional dan pengalaman intuisi. Kreativitas memerlukan kedua fungsi otak tersebut. Berikut ini adalah gambaran proses dari kreativitas :

TAHAP KREATIVITAS AKTIVITAS GAYA PSIKOLOGI
Ketertarikan Penelitian lingkungan Intuisi / emosi
Persiapan Persiapan perjalanan Detail / perencanaan
Pengendapan “mulling things over” Intuisi
Penerangan Pengalaman yg ada Intuisi
Verifikasi Riset pasar Detail / rational
Eksplorasi Captain of industri Detail / ration
HUBUNGAN KREATIVITAS DENGAN KEWIRAUSAHAAN

Hubungan kreativitas dengan kewirausahaan sangat erat dan terka-dang overlap walaupun tidak sama diantara keduanya

Entrepreneur Capacity

Berdasarkan atas gambar diatas maka hubungan antara kreativitas dengan kewirausahaan dibedakan atas 4 kategori:

Kategori 1
Perusahaan dengan kreativitas tinggi tetapi sedikit dalam penggunaan konsep kewirausahaan seperti Manajemen artis yang harus menam-pilkan artis berbeda dengan sebelumnya dalam beberapa hal seperti penampilan tetapi hanya bergerak dalam bidang hiburan dimana artis tersebut terlibat.

Kategori 2
Perusahaan dengan kreativitas rendah tetapi memakai banyak konsep kewirausahaan yaitu perusahaan franchising fast food seperti Mc-Donald’s dimana kreativitas rendah karena perusahaan ini harus mengikuti peraturan dari pemberi franchising (franchisor) sedangkan berdasarkan kewirausahaan konsep franchising merupakan konsep usaha yang baik.

Kategori 3
Perusahaan dengan kreativitas tinggi dan tinggi dalam penggunaan konsep kewirausahaan seperti Perusahaan Film dimana memerlukan kreativitas tinggi dalam menciptakan film-film bermutu dan diterima masyarakat. Mereka mengembangkan berbagai jenis film dengan berbagai lapisan penonton  atau melakukan diversifikasi produk sesuai konsep kewirausahaan.

Kategori 4
Perusahaan yang tidak menggunakan kreativitas dan kewirausahaan dalam melaksanakan kegiatannya seperti pada birokrasi pemerintah (bersifat birokrasi penuh) yang hanya menjalankan kegiatannya berdasarkan masa lalu saja.

3.4  MANAJEMEN KREATIVITAS

Kreativitas merupakan nilai penting dalam kompetisi dalam segala bidang. Untuk itu kreativitas harus dipelihara dan dikembangkan dengan mengaturnya melalui manajemen kreativitas yang baik. Kreativitas dapat dibentuk atau dikembangkan dengan beberapa cara seperti berikut ini :

§  Menciptakan keterbukaan dengan struktur organisasi desentralisasi.

§  Mendukung iklim terciptanya eksperimen-eksperimen kreativitas.

§  Mendorong sikap eksperimental.

§  Mengedarkan cerita-cerita sukses.

§  Menekankan peran dari seorang pemenang.

§  Menitikberatkan komunikasi pada semua level manajemen.

§  Ketersediaan sumber daya untuk inisiatif baru.

§  Memastikan  bahwa ide-ide baru tidak mudah dimusnahkan.

§  Mengurangi birokrasi dari proses alokasi sumber daya.

§  Menyediakan penghargaan financial dan non financial bagi suatu kesuksesan yang didapat.

§  Memastikan budaya organisasi yang mendukung pengambilan resiko dan ketidakraguan.

§  Meminimalisasikan campur tangan administrasi.

§  Memberikan kebebasan dari pengawasan dan pengevaluasian.

§  Menghilangkan deadline.

§  Mendelegasikan tanggungjawab untuk aktivitas baru.

BAB IV

PENGEMBANGAN IDE USAHA


4.1.    SUMBER PENEMUAN IDE-IDE BARU

Sumber ide biasanya berkaitan dengan hal-hal atau kegiatan yang menyangkut organisasi atau lembaga yang ada hubungannya dengan bisnis, seperti :

1.        Konsumen

Dengan memperhatikan potensial konsumen terutama needs dan wants mereka maka dapat menimbulkan ide-ide usaha baik untuk produk baru ataupun perbaikan dari produk yang sudah ada.

Seperti need konsumen peminum kopi yang tinggi akan macam cita rasa kopi serta want mereka akan tempat minum kopi yang memungkinkan mereka menikmati kopi dengan santai dan beramai-ramai dengan kolega mendorong tumbuhnya warung kopi di mal-mal atau perkantoran baik dari luar negeri (Coffe Bean dan Starbucks) serta dari dalam negeri (Kopi Luwak, Nescafe dll).

2.        Perusahaan yang sudah ada

Terkadang dari produk yang sudah ada di pasar belum memenuhi tingkat kebutuhan konsumen sehingga diperlukan perbaikan produk ataupun pengembangan produk tersebut.

Selain itu penanganan perusahaan terhadap produk yang tidak baik juga dapat mendorong terciptanya ide untuk cara menangani produk yang dapat menciptakan produk lebih sesuai dengan konsumen. Contohnya adalah pada industri mobil tahun 1990 an dimana Toyota Kijang dari Toyota menguasai pasar mobil niaga khususnya yang memiliki bonnet (hidung) karena tidak mempunyai pesaing. Hal ini mendorong pabrik lain seperti Isuzu mengeluarkan Isuzu Panther dan  Mitsubishi yang mengeluarkan Mitsubishi Kuda.

3.        Saluran Distribusi

Pendistribusian yang tidak merata atau tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen dapat menimbulkan ide-ide usaha untuk menyempurnakan produk ataupun menciptakan produk baru.

Contohnya adalah Pendistribusian Pendapatan Negara yang tidak berimbang ke daerah menimbulkan timbulnya sistem pemerintahan otonomi daerah yang dirasakan daerah lebih adil.

4.        Pemerintah

Ada dua cara sumber pengembangan ide dari pemerintah yaitu pertama, melalui dokumen hak-hak paten yang memungkinkan pengembangan sejumlah produk baru. Kedua, melalui pengaturan pemerintah kepada dunia bisnis yang bisa memungkinkan munculnya gagasan produk baru. Misalnya adalah peraturan pemerintah mengenai kebersihan udara melalui pengurangan emisi gas buang kendaraan memungkinkan munculnya usaha-usaha produk pengurang emisi seperti bahan bakar tanpa timbal dan produk catalitic converter (penyaring gas buang) kendaraan.

5.        Penelitian dan Pengembangan

Melalui penelitian dan pengembangan memungkinkan timbulnya gagasan produk baru atau perbaikan dari produk yang sudah ada.

Contohnya adalah penelitian terhadap penyakit flu menghasilkan jenis obat flu yang tidak membawa efek mengantuk.

Walaupun terdapat banyak pendekatan untuk mencari sumber ide bagi produk atau jasa, proses ini dapat dipercepat dengan penggunaan saran-saran berikut :

a.    Kebutuhan akan Sumber Penemuan.

Penemuan yang berasal dari persepsi kebutuhan yang jelas ingin dipenuhi dan banyak produk atau jasa yang telah dikembangkan dari persepsi tersebut seperti kebutuhan irigasi di daerah langka air, mahal, dan agak bergaram memungkinkan seorang wirausaha memproduksi peralatan penetes air sesuai metode irigasi yang sesuai.

b.   Hobi atau Kesenangan Pribadi.

Hobi atau minat pribadi adakalanya bisa mendorong bisnis baru. Contohnya adalah orang yang memiliki hobi mobil dan kebersihan tubuh akan membuat usaha bengkel dengan salon sehingga pemilik mobil dapat mengurus tubuhnya sementara mobilnya dibengkel.

c.    Mengamati Kecenderungan-kecenderungan.

Kecenderungan dan kebiasaan dalam mode merupakan sumber gagasan untuk melakukan usaha. Peluang yang terlihat oleh pengamat dan mendorong wirausaha mengerjakan sesuatu yang baru pada saat yang tepat.  Contohnya adalah saat mode pakaian bermerek tumbuh maka marak bisnis factory outlet di kota Bandung dan Jakarta

d. Mengamati Kekurangan-kekurangan produk dan jasa yang ada.

Kekurangan pada produk dilakukan dengan memperbaiki kinerja  atau menambah keunggulan yang diperlukan.

a.    Mengapa Tidak Terdapat ?

Peluang timbulnya usaha baru adakala datang dari pertanyaan “Mengapa tidak terdapat….?”. Seperti contoh tidak adanya cairan penghapus tinta merupakan peluang mendirikan usaha baru yang disebabkan tidak adanya alat untuk menghapus tinta.

b.   Kegunaan lain dari Barang-barang Biasa.

Banyak produk komersil berasal dari penerapan barang-barang biasa untuk kegunaan lain yang bukan kegunaan yang dimaksudkan dari barang itu.  Barang tersebut dari perubahan karakter dan kegunaan dari barang akhir hingga pengembangan penerapan baru barang yang tidak terpakai. Seperti Kit Wash dan Wax yang merupakan penambahan wax (cairan pengkilat) pada shampo mobil yang ada sehingga kita tidak perlu membeli wax.

c.    Pemanfaatan Produk dari Perusahaan lain.

Produk atau perusahaan baru dapat terbentuk sebagai perusahaan yang memanfaatkan produk dari perusahaan yang ada. Misalnya seorang pega-wai pada perusahaan yang memproduksi cairan pembersih mobil berusa-ha mendapatkan tambahan penghasilan dengan membuat salon mobil panggilan pada malam hari atau hari libur dan konsumennya puas dan menjadi pelanggan tetap hingga penghasilannya melebihi penghasilan di kantor. Hal itu membuatnya memutuskan mendirikan salon mobil tetap.

Menurut penelitian di Amerika yang dilakukan oleh NFIB Foundation (1990), sumber ide untuk bisnis baru adalah sebagai berikut :

-          Dari pekerjaan terdahulu (43%)

-          Hobi / Minat pribadi (18%)

-          Adanya kesempatan / peluang (10%)

-          Saran orang lain (8%)

-          Pendidikan / Kursus (6%)

-          Teman / Saudara (6%)

-          Bisnis keluarga (6%)

-          Lain-lain (3%)

4.2.    PENYARINGAN IDE

Dari sekian banyak ide yang didapat, kemudian dipilih ide produk apa yang paling baik untuk bisnis yang kita lakukan. Ada berbagai cara untuk melakukan pemilihan ide produk, dimana salah satu cara adalah dengan melakukan proses tahapan sebagai berikut dibawah ini :

a.        Macro Screening

Dari ratusan ide yang mungkin didapat, pilihlah sekitar 20 ide yang mempunyai potensi bisnis. Disini kriteria yang digunakan untuk memilih masih umum sekali, yaitu yang mempunyai potensi bisnis.

b.       Micro Screening

Dari 20 ide produk yang ada, kemudian dipilih lagi menjadi 5 ide dengan menggunakan kriteria tertentu.

Sebagai contoh kriteria dapat menggunakan beberapa faktor, misalnya :

1.    Tersedianya pasar lokal

2.    Tersedianya tenaga kerja lokal

3.    Tersedianya bahan baku

4.    Tersedianya teknologi

5.    Mendapat prioritas dari pemerintah

6.    Peluang di masa yang akan datang

7.    Dan sebagainya.

Dengan adanya pemilihan bertahap tersebut, diharapkan kita dapat mempunyai alternatif beberapa ide produk yang akan dikembangkan lebih lanjut.

4.3.    IDE / GAGASAN YANG TEPAT

Suatu bisnis yang baik harus mempertimbangkan pelaku dan situasi atau lingkungan yang sesuai untuk bisnis tersebut. Oleh karena itu ide produk yang baik harus memperhitungkan kemampuan calon wirausaha dan situasi / lingkungan yang mempengaruhi bisnis tersebut.

Ide produk yang ada perlu dianalisis lebih mendalam sehingga diketahui apa kekuatan dan kelemahannya dengan memperhatikan situasi lingkungannya.

Dari Ide / Gagasan Menjadi Bisnis

Ide produk yang baik belum tentu menjadi bisnis yang baik pula. Untuk itu sebelum ide produk direalisir harus diuji dulu kelayakannya di lapangan yang merupakan situasi lingkungan bisnis sebenarnya. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam menentukan keberhasilan suatu bisnis seperti: Pasar dan pemasaran, teknik /operasi usaha yang dilakukan, organi-sasi dan manajemen, dan keuangan.

Dengan adanya suatu rencana bisnis untuk suatu ide produk, akan memudahkan kita menilai apakah ide produk tersebut layak atau tidak layak kalau direalisir menjadi bisnis yang sebenarnya.

Metode Pengembangan Ide

Terdapat beberapa metode untuk mengembangkan ide, di antaranya adalah:

Focus Group
Brainstorming
Problem Inventory Analysis
Creative Problem Solving
Brainstorming
Reverse Brainstorming
Synetics
Gordon Method
Checklist Method
Free Association
Forced Relationships
Collective Notebook Method
Heuristics
Scientific Method
Value Analysis
Attribute Listing
Matrix Charting
Big-Dream Approach
Parameter Analysis
4.4.    PROSES PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK

Produk adalah segala yang ditawarkan pada konsumen untuk dipakai atau dikonsumsi. Makna suatu produk adalah:

Produk inti (core product), manfaat tersembunyi yang terdapat dalam produk itu.
Produk nyata (tangible product)
Produk tambahan
Berdasarkan hal itu, maka suatu produk harus direncanakan dan dikembangkan maknanya. Tujuan perencanaan dan pengembangan produk baru adalah untuk mencapai pasar yang diinginkan sehingga tidak menjadi produk gagal. Perencanaan produk meliputi:

Produk hasil penemuan baru
Modifikasi besar dari produk yang sudah ada
Akuisisi produk
Langkah-langkah yang dikembangkan mengenai perencanaan produk yaitu:

Adanya gagasan
Penyaringan gagasan dan analisa bisnis
Mewujudkan gagasan dan penyempurnaan
Analisis kemampulabaan
Uji coba pemasaran
Komersialisasi
Suatu produk akan mengalami siklus / daur hidup produk yang dikenal dengan product life cycle (PLC). Konsep dasar PLC adalah:

1.      Produk mempunyai batas umur

2.      Produk mempunyai tahapan

3.      Setiap tahapan mempunyai tantangan yang berbeda

4.      Keuntungan berbeda pada setiap tahap

5.      Strategi yang diterapkan berbeda pada setiap tahap

Karakteristik setiap tahap adalah sebagai berikut:

Tahap Perkenalan (Introduction)
Produk sudah didistribusikan, penjualan relatif tumbuh perlahan, keun-tungan relatif kecil, resiko kegagalan cukup tinggi, promosi harus efektif.

Tahap Pertumbuhan (Growth)
Penjualan dan laba relatif meningkat, konsumen merasa puas, muncul pengekor (pesaing), saluran distribusi bertambah, harga stabil / bisa turun bila ada pesaing.

Tahap Kedewasaan (Maturity)
a.      Kedewasaan pertumbuhan, penjualan berkurang, hampir tidak ada distribusi baru.

b.      Kedewasaan mantap, penjualan datar

c.       Kedewasaan mengusang (decaying), penjualan mulai jatuh, konsumen mulai beralih ke produk lainnya.

Tahap Kemunduran (Degeneration)
Penjualan mutlak turun, keuntungan menipis.

Kriteria juga dibuat untuk mengevaluasi produk baru dalam peluang pasar, persaingan, sistem pemasaran, faktor keuangan, dan faktor produksi.

4.5.    MANAJEMEN PROSES PRODUK BARU

4.5.1.   Kiat Sukses Program Produk Baru

Menurut Cooper, R. ada 15 pelajaran untuk suksesnya program produk baru yaitu:

1.        Produknya unik dan unggul.

Artinya, produknya “berbeda”, memberi manfaat unik, dan berasio nilai tinggi untuk konsumen.

2.        Sangat berorientasi pasar.

Dipengaruhi oleh pengetahuan tentang keadaan pasar (market driven) dan proses pengembangan produk baru berfokus pada konsumen.

3.        Berwawasan pasar internasional.

Dengan melihat pada keadaan internasional maka disain produk, pengembangannya, dan target pemasarannnya, akan menghadirkan inovasi produk yang terdepan.

4.        Lebih banyak melakukan persiapan sebelum produk dikembang-kan.

5.        Perumusan dengan tajam definisi / konsep produk pada awal dari proses.

6.        Pelansiran produk yang dipersiapkan dengan matang dan dilaksa-nakan dengan baik.

Rencana pemasaran yang mapan untuk pelansiran produk adalah inti dari keberhasilan.

7.        Struktur, disain dan iklim organisasi yang tepat.

8.        Dukungan manajemen puncak tidak menjamin sukses, walaupun bermanfaat.

9.        Adanya sinergi sangat penting, proyek yang “asing” cenderung gagal.

10.    Produk yang ditujukan ke pasar yang menarik akan berjalan lebih baik.

Daya tarik pasar adalah kriteria utama dalam seleksi produk.

11.    Suksesnya produk baru dapat diduga.

Profil produk yang unggul dapat dipakai sebagai kriteria seleksi produk baru.

12.    Suksesnya produk baru dapat dikendalikan.

Perlu lebih ditekankan adanya kebutuhan untuk kelengkapan, konsekuen, dan kualitas dalam pelaksanaan.

13.    Sumberdaya dan sarana harus tersedia.

14.    Kecepatan adalah segala-galanya, namun harus tanpa mengorban-kan kualitas dalam pelaksanaannya.

15.    Perusahaan yang menjalankan pengembangan produk baru secara bertahap dan menggunakan konsep pengembangan produk dengan pedoman permainannya secara disiplin, akan lebih berhasil.

4.5.2.   Karakteristik Produk Baru Yang Unggul

1.        Produk yang unggul dan unik.

-   Mempunyai bentuk/perlengkapan yang unik untuk konsumen

-   Memenuhi kebutuhan konsumen lebih baik dari pesaing.

-   Memecahkan masalah yang dialami bila konsumen menggunakan produk pesaing.

-   Mengurangi biaya bagi konsumen.

-   Inovatif atau ada pertama-kalinya.

2.        Berwawasan konsumen.

-   Mengenali kebutuhan konsumen.

-   Mengerti apa yang dibutuhkan pemakai.

-   Memenuhi kebutuhan pasar.

-   Terus-menerus berhubungan dengan konsumen.

-   Kuat dalam pengetahuan pasar dan penelitian pasar.

-   Pelaksanaan dan kegiatan pemasaran yang berkualitas.

-   Pendanaan yang lebih untuk kegiatan pemasaran awal.

3.        Definisi atau konsep produk/proyek yang tajam.

Ketajaman definisi atau konsep meliputi sebagai berikut:

-   Pasar sasaran tertentu ; jelas siapa yang akan menggunakan pro-duk tersebut.

-   Penggambaran / diskripsi produk ; produk apa, apa yang dapat dilakukan olehnya dan manfaatnya.

-   Penjabaran strategi posisi (positioning) yang diambil.

-   Daftar tentang bentuk, sifat, persyaratan dan spesifikasi produk yang harus ada dan sebaiknya ada.

4.5.3.   Struktur, Disain, dan Iklim Organisasi.

Pengembangan produk baru bukan merupakan kegiatan disatu bagian atau departemen, melainkan merupakan kegiatan multi disiplin dan multi-fungsi. Peran kelompok dan pimpinan kelompok kerja sangat menentukan.

Tiga alternatif struktur sangat menonjol :

a.    Matriks yang imbang (balanced matrix)

Seorang manajer proyek ditugaskan untuk menangani proyek dan berkon-tribusi dalam tanggung-jawab dan wewenang dengan para manajer fung-sional: ada kebersamaan dalam menyetujui dan mengarahkan.

b.   Matriks proyek (project matrix)

Seorang manajer proyek ditugaskan untuk menangani proyek dan mem-punyai tanggung-jawab serta wewenang utama atas proyek. Para manajer fungsional menugaskan karyawan yang diperlukan dan menyediakan keahlian teknis.

c.    Kelompok proyek (project team)

Seorang manajer proyek diberi wewenang menangani kelompok yang terdiri dari anggota inti yang berasal dari berbagai fungsi. Para manajer fungsional tidak mempunyai keterlibatan dan wewenang formal.

Terlepas dari bentuk mana yang dipilih, kepemimpinan proyek yang kuat dan adanya kewewenangan formal sangatlah penting. Iklim yang ditumbuhkan harus memberi ganjaran dan mendorong adanya kreativitas dan inovasi dan tersedianya sarana untuk melakukan usaha kreatif.

4.5.4.   Mempercepat Proses Produk Baru.

Ada lima metode dalam mempercepat proses produk baru tanpa meru-gikan kualitas dalam pelaksanaannya, yaitu:

Lakukan langkah pertama dengan tepat. Pengulangan akan memper-panjang waktu.
Pekerjaan rumah dan definisi produk yang jelas. Persiapan dengan membuat pekerjaan rumah dan memperjelas produk/proyeknya.
Proyek diorganisir secara kelompok multifungsi dan dengan diberi kewewenangan.
Proses dilakukan secara berurutan, bersamaan, atau bertumpuk.
Proses bertahap dengan mengikuti pedoman main (game plan). Game plan merupakan model pengembangan produk yang didasarkan kon-sep dan pegangan operasional yang membawa dari tahap gagasan menuju pada pelansiran produk. Model menjelaskan kegiatan dan tes yang dilalui. Pedoman yang disusun meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pengembangan produk baru.
4.5.5.   Proses Pengembangan Produk Baru

Model pengembangan produk baru menurut Cooper terdiri dari lima pintu dan lima tahap. ”Pintu” adalah kegiatan menilai apakah proses dilanjutkan atau tidak. “Tahap” adalah kegiatan yang dalam model Cooper adalah :

a.    Penyelidikan awal.

b.   Penyelidikan mendalam.

c.    Pengembangan.

d.   Percobaan dan penilaian.

e.    Produksi penuh dan pelansiran pemasaran.

Untuk selanjutnya harus ditempatkan produk tersebut ditinjau dari kegiatan dasarnya. Penempatan produk dilihat dari kacamata bisnis dapat dikategorikan menjadi empat golongan, yaitu:

1.    Bisnis Ekstraktif, yang bergerak di bidang penambangan atau penggalian bahan-bahan tambang. Perusahaan-perusahaan seperti pabrik semen, timah, pertanian, dan inalum termasuk kategori bisnis ekstraktif.

2.    Bisnis Agraris, yang bergerak di sektor pertanian termasuk perikanan, peternakan, perkebunan, dan kehutanan.

3.    Bisnis Industri, yang bergerak di sektor industri manufaktur, mengolah bahan baku menjadi barang jadi, baik untuk konsumsi maupun untuk industri berikutnya. Yang termasuk bisnis industri adalah industri tekstil, garmen, rokok, mesin-mesin, mobil, sepeda motor, pesawat terbang, kertas dan berbagai jenis.

4.    Bisnis jasa yang bergerak di bidang jasa menghasilkan produk yang tidak berwujud (intangible), seperti jasa pendidikan, jasa tata rias, dokter, pengacara, rumah sakit, asuransi, jasa pariwisata dan lain-lain.

Selain itu, kegiatan bisnis dapat juga dibedkan menurut kegunaannya, yaitu :

1.        Kegunaan bentuk (form utility)

Bisnis yang menciptakan kegiatan benuk adalah kegiatan bisnis yang mengubah suatu bahan dasar menjadi benda lain yang berbeda bentuk-nya, sehingga menjadi lebih bermanfaat bagi manusia. Yang termasuk bisnis menciptakan kegunaan bentuk adalah peusahaan tekstil, sepatu, mebel, ubin, makanan, dll.

2.        Kegunaan tempat (place utility)

Bisnis yang menciptakan kegiatan tempat adalah bisnis yang bergerak di bidang transportasi atau pengangkutan baik transportasi barang atau orang. Kegiatannya adalah memindahkan barang atau orang dari satu tempat ke tempat lain dan menjadi lebih bermanfaat. Hasil pertanian dipindahkan dari desa ke kota, angkutan umum memindahkan orang dari rumahnya ke tempat kerja. Perusahaan angkutan udara, darat dan laut termasuk jenis bisnis yang menciptakan kegunaan tempat.

3.        Kegunaan waktu (time utility)

Bisnis yang menciptakan kegunaan waktu adalah bisnis yang bergerak di sektor penyimpanan. Barang yang disimpan belum bermanfaat pada saat sekarang, disimpan dulu dan baru kemudian hari akan dikeluarkan dari tempat penyimpanan.

4.        Kegunaan milik (possesion utility)

DAFTAR PUSTAKA

Episentrum. 2009. Kreativitas wirausaha.

http://episentrum.com/artikel-psikologi/Kreativitas wirausaha/#more-  515. 13 November 2010.

Justelsa.Teori Motivasi.http://www.justelsa.com/2010/05/teori-motivasi-david-c-mcclelland.html. 13 November 2010.

Aryati. D. 2009. Kewirausahaan. Jakarta

b.unila.ac.id/…/p2-motivasi-proses-terbentuknya-wirausaha

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar